Postingan

BERSAMA KESULITAN ADA BEBERAPA KEMUDAHAN - TAFSIR SURAT AL INSYIRAH

Gambar
Pelajaran dari Surat Al Insyirah, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Allah  Ta’ala  berfirman,  مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6) “ Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. ” (QS. Alam Nasyrah: 1-8) Ada hadits dari Anas, ketika itu Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam  sedang duduk dan sekelilingnya ada lubang. Beliau bersabda, لَوْ جَاءَ العُسْرُ فَدَخَلَ هَذَا الحُجْرَ لَجَاءَ اليُسْرُ حَتَّى يَدْخُلَ عَلَيْهِ فَيُخْرِجُهُ “ Seandainya kesulitan itu datang dan masuk dalam lubang ini, maka akan datang kemudahan dan ia turut masuk ke dalam lubang tersebut sampai ia mengeluarkan kesulitan tadi.”   Lantas turunlah potongan ayat yang disebutkan di atas. (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 2: 255. Sanad hadits ini  dha’if  karena terdapat A’idz bin Syuraih) Al-Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa ketika turun surat Alam Nasyrah ayat 5-6, Rasulullah...

IMAM SUFYAN BIN UYAINAH

Gambar
Biografi Imam Sufyan Bin Uyainah Beliau bernama Abu Muhammad Sufyan bin ‘Uyainah bin Abu Turan Maimun. Lahir di Kuffah pada tahun 107 H. Syu’bah bin Al-Hajaj berkata : “Saya melihat Ibnu ‘Uyainah orang yang masih kecil.  Dia membawa papan yang panjang tatkala belajar kepada Amru bin Dinar.” Sufyan bin ‘Uyainah juga pernah berkata : “ Dahulu ayahku adalah seorang penukar uang (money changer ) di kota Kufah.  Maka tatkala kami sampai di Makkah terus menuju masjid.  Tanpa disengaja aku bertemu dengan (seorang Ulama) Amru bin Dinar, ia membacakan kepadaku 8 hadits.  Kemudian saya memegangkan tali keledainya sehingga dia sholat.  Maka tatkala dia keluar dari masjid, saya setorkan 8 hadits yang tadi disampaikannya.  Maka diapun mendo’akan saya : “ Semoga Allah memberkahi dirimu “. Begitulah kecerdasan yang dianugerahkan Allah ‘Azza Wa Jalla kepadanya.  Sejak kecil beliau bersemangat dalam menghafal hadits serta tekun menuntut ilmu.  Sosok ya...

SURAT ULAMA PADA SAHABATNYA

Gambar
Dibawakan oleh Ibnu Taimiyah dalam  Majmu’ Al Fatawa -nya, Sufyan bin ‘Uyainah pernah berkata, كَانَ الْعُلَمَاءُ فِيمَا مَضَى يَكْتُبُ بَعْضُهُمْ إلَى بَعْضٍ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ Para ulama di masa silam biasa menuliskan surat pada yang lainnya dengan untaian kalimat berikut: Pertama : مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ Barangsiapa yang memperbaiki  amalan batinnya , Allah pun akan memperbaiki  amalan lahiriyahnya . Kedua : وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ أَصْلَحَ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ Barangsiapa yang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia. Ketiga : وَمَنْ عَمِلَ لِآخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ Barangsiapa yang beramal demi tujuan akhirat, Allah akan mencukupkan urusan dunianya. Sumber: Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, 7/9-10. *** Nasehat di atas mengandung beberapa pelajaran: 1.       Berusah...

MEMPERBANYAK DO’A DALAM SUJUD

Gambar
Oleh Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA  عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ  رواه مسلم  Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh ﷺ bersabda: Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika dia sedang sujud, maka perbanyaklah doa  [HSR. Muslim, no. 482]  Hadits agung ini menunjukkan keutamaan dan tingginya kedudukan sujud dalam shalat[1], serta keutamaan memperbanyak do’a di dalamnya, karena waktu sujud adalah saat yang dijanjikan pengabulan doa padanya.[2]  Dalam hadits lain dari ‘Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh ﷺ bersabda, “Adapun (di waktu) sujud maka bersungguh-sungguhlah untuk berdo’a padanya, karena pantas untuk dikabulkan doamu (pada waktu itu)”[3].  Beberapa Faidah Penting Yang Dapat Kita Petik Dari Hadits ini:  1.  Keutamaan su...

KENAPA WANITA BANYAK MASUK NERAKA?

Gambar
Cukup jawabannya bisa disimak dalam hadits berikut. Seselesainya dari shalat Kusuf (shalat Gerhana), Nabi ﷺ bersabda menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika shalat, وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ “ Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.”  Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.”  Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?”  Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) me...

LARANGAN BERSIKAP GHULUW (BAGIAN KE-2)

Gambar
Membangun kubur, menembok kubur, membuat bangunan, monument, dan patung di atas kuburan adalah sikap ghuluw dan bid’ah yang membawa manusia kepada kesyirikan.  Oleh karena itu dalam Islam tidak boleh membangun kuburan, disemen, dan lainnya. Tidak boleh juga menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.  Ghuluw ini ada bermacam-macam. Ghuluw dalam ‘aqidah, yaitu ghuluw yang berkaitan dengan seluruh syari’at Islam dan pokok masalahnya (perkara ‘aqidah).  Ghuluw dalam perkara ‘aqidah ini lebih berbahaya daripada ghuluw dalam perkara amal karena dapat menyebabkan manusia keluar dari agama Islam, meninggalkan agama mereka dan menyebabkan terjadinya perpecahan kaum Muslimin dan adanya jama’ah-jama’ah yang menyimpang dari jalan yang lurus.  Di antara bentuk ghuluw dalam aqidah yaitu berlebihan dalam mensucikan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , akhirnya mereka mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allâh yang tinggi dan indah.  Ada juga yang mengingkari seluruhnya sepe...

LARANGAN BERSIKAP GHULUW (BAGIAN KE-1)

Gambar
Oleh Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله  Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma ia berkata, “Rasûlullâh  ﷺ bersabda :  …وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِيْ الدِّيْنِ، فَإِنَّمَـا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِيْ الدِّيْنِ  ‘… Dan jauhilah oleh kalian sikap ghuluw (berlebihan) dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena sikap ghuluw (berlebihan) dalam agama.’”  TAKHRIJ HADITS  Hadits ini shahîh. Diriwayatkan oleh  Ahmad (I/215, 347);  An-Nasâi (V/268);  Ibnu Mâjah (no. 3029);  Ibnu Khuzaimah (no. 2867);  Ibnu Hibbân (no. 3860-at-Ta’lîqâtul Hisân ‘ala Shahîh Ibni Hibbân) dan (no. 1011-Mawâriduzh Zham‘âan ila Zawâidi Ibni Hibbân);  Ibnul Jârûd (no. 473). Al-Hâkim (I/466), ia menshahihkannya sesuai dengan syarat al-Bukhâri dan Muslim dan adz-Dzahabi menyepakatinya;  Al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra (V/Sunanul Kubra Muslim dan adz-Dzahabi menyepakatinya,...